Dusun Sukoliman adalah sebuah perkampungan kecil yang berada di kawasan hutan Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Letaknya yang tersembunyi di tengah rimbunnya pepohonan membuat tempat ini terasa terpisah dari keramaian. Oleh sebagian warga sekitar dan peneliti lokal, wilayah ini kerap dijuluki “Kampung Mati” karena dalam beberapa tahun terakhir banyak rumah yang kosong dan hanya menyisakan bangunan-bangunan lama yang mulai rapuh dimakan usia.
Secara geografis, Sukoliman berada di lokasi yang cukup terpencil dengan kondisi medan yang menantang. Akses menuju dusun ini harus melewati jalan setapak sempit, tanjakan curam, serta turunan yang berliku di antara hutan lebat. Faktor inilah yang membuat perkembangan infrastruktur berjalan lambat. Hingga kini, fasilitas umum seperti jaringan listrik dan sarana pendukung lainnya belum sepenuhnya tersedia.
Di balik kesunyian kampung tersebut, berkembang berbagai cerita dan keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu yang paling dikenal adalah anggapan bahwa Sukoliman hanya boleh dihuni maksimal tiga kepala keluarga. Kepercayaan ini diyakini sebagian masyarakat sekitar sebagai aturan tak tertulis yang tidak boleh dilanggar. Konon, apabila jumlah penghuni melebihi batas tersebut, akan muncul musibah seperti penyakit atau peristiwa tragis yang menimpa warga. Sejumlah kisah lama kerap diceritakan kembali sebagai penguat keyakinan tersebut.
Seiring waktu, banyak penduduk memilih pindah ke daerah yang aksesnya lebih mudah dan memiliki fasilitas pendidikan, listrik, serta jalan yang memadai. Perpindahan ini membuat Sukoliman semakin lengang dan jarang dihuni, kecuali sesekali dikunjungi oleh mantan warga atau orang-orang yang tertarik melihat sisa-sisa perkampungan lama itu. Di sana masih tampak rumah-rumah tua, perabot sederhana yang ditinggalkan, serta suasana alam yang asri namun sunyi, menghadirkan kesan tersendiri bagi siapa pun yang datang.
Kisah Kampung Adat Sukoliman menjadi gambaran tentang kuatnya tradisi lisan dan kepercayaan lokal dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Pada saat yang sama, cerita ini juga menunjukkan bagaimana perubahan sosial dan tuntutan kehidupan modern turut memengaruhi keberlangsungan sebuah kampung tradisional.
Makam Petilasan Mangkuratmas
Di wilayah Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, terdapat sebuah kawasan pemakaman yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai situs kuno yang memiliki nilai historis dan kultural. Salah satu makam yang dikenal luas adalah Makam Mangkuratmas. Walaupun belum ditemukan catatan sejarah resmi yang secara rinci menjelaskan sosok Mangkuratmas, keberadaan makam ini tetap dipandang penting sebagai bagian dari identitas dan ingatan kolektif warga desa.
Lingkungan Desa Tritik sendiri telah lama dikenal memiliki tinggalan budaya megalitik. Berbagai temuan seperti kubur batu, sarkofagus, serta artefak batu menunjukkan bahwa kawasan ini pernah dihuni oleh komunitas masa lampau dengan sistem kepercayaan yang kuat terhadap penghormatan leluhur. Jejak-jejak tersebut memperlihatkan adanya tradisi pemakaman yang sarat makna spiritual, sekaligus menjadi bukti bahwa wilayah ini memiliki kesinambungan sejarah yang panjang.
Dalam konteks itulah, Makam Mangkuratmas dipahami bukan sekadar sebagai tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga sebagai simbol keterhubungan masyarakat dengan masa silam. Tradisi ziarah yang masih dilakukan hingga kini mencerminkan upaya warga dalam menjaga nilai-nilai budaya serta menghormati warisan leluhur. Walaupun informasi tertulis mengenai tokoh yang dimakamkan belum banyak tersedia, makam tersebut tetap menjadi ruang budaya yang memperkuat solidaritas sosial dan kesadaran sejarah masyarakat Desa Tritik.
Pohon Kemenyan
Keberadaan pohon kemenyan putih di Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, menjadi salah satu penemuan penting yang memperkaya khazanah alam daerah tersebut. Pohon ini tergolong jarang ditemukan, terutama di wilayah Jawa Timur, sehingga memiliki arti strategis dari segi ekologi sekaligus nilai budaya. Kehadirannya menegaskan bahwa kawasan Hutan Tritik bukan hanya menyimpan jejak sejarah masa lampau, tetapi juga menjadi habitat bagi spesies tumbuhan yang bernilai ilmiah tinggi.
Selain berperan sebagai bagian dari ekosistem hutan, kemenyan putih juga memiliki makna historis dan tradisi yang kuat dalam kehidupan masyarakat Nusantara, terutama sebagai bahan wewangian dan ritual adat. Hal ini membuat keberadaannya di Tritik semakin penting untuk dijaga dan diteliti lebih lanjut. Potensi tersebut membuka peluang pengembangan riset botani, konservasi lingkungan, hingga penguatan identitas lokal berbasis kearifan alam.
Penemuan ini pun mendorong berbagai pihak, mulai dari komunitas pecinta sejarah dan lingkungan, masyarakat desa, hingga unsur pemerintahan daerah, untuk melakukan langkah-langkah pelestarian. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menjaga kelangsungan pohon kemenyan putih sebagai aset hayati, tetapi juga menjadikan Hutan Tritik sebagai kawasan yang terlindungi dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Categories:
Pengabdian

